Pelaku ingin segera melakukan panggilan video tanpa membangun pertemanan yang wajar.
Pelaku akan menawarkan jasa VCS dengan tarif tertentu. Namun, tujuan utama mereka bukanlah memberikan layanan tersebut, melainkan melakukan pemerasan setelah mendapatkan rekaman sensitif dari korban. Bagaimana Cara Mereka Menipu?
Akan tetapi, namanya sekarang lebih sering dikaitkan dengan para penjahat siber yang menyamar di forum atau kolom komentarnya. Bukan hanya INDO18, praktik penipuan seperti ini juga marak terjadi di media sosial lain seperti Twitter (atau X), di mana penipu berpura-pura menjadi wanita cantik, ramah, dan penuh perhatian. Setelah percakapan berbau seksual dimulai, mereka akan mengajak melakukan panggilan video untuk merekam korban dan selanjutnya melakukan pemerasan.
Modus penipuan seperti ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga mental. Korban sering kali merasa ketakutan karena ancaman penyebaran konten pribadi. Di Indonesia, pelaku tindak pidana ini dapat dijerat dengan UU ITE Pasal 27B mengenai pemerasan melalui media elektronik. Tips Menghindari Penipuan Digital
Jika Anda membutuhkan bantuan untuk menulis artikel bertema lain yang aman, edukatif, dan mematuhi hukum, silakan sampaikan topik yang bersih, dan saya akan dengan senang hati membantu Anda. Bagaimana Cara Mereka Menipu
Jika Anda sudah terlanjur menjadi korban dan mendapatkan ancaman, jangan pernah menuruti kemauan pelaku untuk terus mentransfer uang. Segera dokumentasikan bukti percakapan dan ancaman tersebut, lalu laporkan ke pihak berwajib (Polisi) melalui layanan pelaporan kejahatan siber.
Jangan pernah memberikan nomor telepon pribadi, akun media sosial utama, atau informasi keluarga kepada akun asing yang baru dikenal di internet.
Setelah uang ditransfer, skenario terburuknya adalah pelaku langsung memblokir nomor korban. Namun, belakangan ini muncul modus yang lebih berbahaya: pelaku berpura-pura memulai video call, merekam wajah dan aktivitas korban, lalu mengancam akan menyebarkan rekaman tersebut ke keluarga atau rekan kerja korban jika tidak mengirimkan sejumlah uang tambahan. Mengapa Persona "Jilbab Nakal" Sering Digunakan?
: Uang yang sudah ditransfer dipastikan hangus tanpa adanya layanan yang diberikan. Kesimpulan Hancurnya reputasi pribadi
Simpan bukti percakapan, nomor rekening atau nomor e-wallet pelaku, serta tautan akun mereka berupa tangkapan layar ( screenshot ).
Para pelaku penipuan dan pemerasan dengan modus VCS dapat dijerat dengan . Dalam kasus yang sudah terungkap, pelaku dijerat dengan Pasal 51 juncto Pasal 35 UU RI Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik .
Dengan meningkatkan kesadaran dan mengikuti tips keamanan online, kita dapat mengurangi risiko menjadi korban penipuan dan menjaga interaksi online tetap aman dan sehat. Internet seharusnya menjadi alat yang memungkinkan kita untuk terhubung dan bertukar informasi dengan positif, bukan sarana untuk penipuan dan kerugian.
Setelah komunikasi terjalin, pelaku akan mulai melontarkan rayuan manis dan bujuk rayu untuk melakukan video call sex (VCS). Di fase inilah kata kunci "Buka VCS" muncul. Korban yang sudah merasa nyaman karena diajak ngobrol oleh seseorang yang dianggap cantik dan "baik hati" akan tergiur. Tawaran ini sering kali dikaitkan dengan iming-iming penghasilan besar bagi yang menjadi pelaku VCS, terutama bagi mereka yang menipu, yang disebut-sebut mendapat keuntungan finansial lebih besar tanpa harus bekerja keras. "kode aktivasi sistem"
Korban sering kali digiring untuk mentransfer uang berulang kali dengan alasan "biaya admin tambahan", "kode aktivasi sistem", atau "denda pembatalan" hingga kerugian mencapai jutaan rupiah.
Video yang ditampilkan terasa kaku, tidak sinkron, atau wajah wanita sering kali hasil manipulasi AI. Langkah Pencegahan dan Perlindungan Diri
: Anda dapat melaporkan nomor rekening atau nomor telepon penipu ke situs resmi pemerintah seperti CekRekening.id atau mengajukan laporan ke Siber Polri jika terjadi pemerasan yang mengancam keselamatan. Kesimpulan
Hancurnya reputasi pribadi, keluarga, maupun profesional jika pelaku benar-benar menyebarkan rekaman. Langkah Hukum dan Perlindungan di Indonesia
: Tidak ada informasi asli mengenai pemilik akun; foto profil sering kali buram atau terlihat seperti hasil tangkapan layar dari platform lain.